Apa tujuan anda membuat blog…???untuk berkarya, belajar nulis, ajang curhat, atau sekedar ikut-ikutan….???jika tujuan atau niat anda hanya ikut-ikutan, dijamin blog anda tak akan berumur panjang. Dalam waktu singkat akun blog anda akan anda cancel atau terbengkalai bagai rumah tak berpenghuni. Terlebih lagi jika anda membuat blog karena seseorang yang anda suka, secara kebetulan punya akun blog pula. Maka hampir dapat dipastikan, ketika blog anda tak mendapat respon dari “dia’, blog anda pun akan mati.
Kenapa saya tiba-tiba berpikir seperti itu. Hal ini terkait dengan postingan yang pernah saya baca, dimana pada postingan tersebut dikatakan bahwa webblog (WordPress, Multiply, Blogdetik, dll) itu hanya trend sesaat. Dan karena trend sesaat itu pulalah, para pemilik blog ramai-ramai meninggalkan “rumah”nya masing-masing dan berpindah pada situs jejaring sosial yang sedang booming saat ini, seperti facebook, twitter, dan plurk.
Secara pribadi jujur saya tidak sepakat dengan tulisan itu. Menurut saya, justru trend sesaat itu ada pada situs jejaring sosial. Hampir semua orang yang melek internet, pasti mempunyai akun facebook. Dan dengan gampangnya, pada saat kapanpun dan dimanapun, membuat status dengan bermacam gaya, mulai dari tausiyah, berbagi kebahagiaan, caci maki, curhat, sampai status yang hanya bertuliskan “………”, atau “aaaaaarrggghhh…..”. Kelebihan facebook (saya hanya menceritakan tentang facebook karena kebetulan akun yang saya miliki hanya facebook) adalah karena kita dapat menumpahkan apapun yang ada dalam pikiran pada saat itu juga, tanpa harus berpikir panjang dan menyusun kata-kata yang benar dan indah seperti halnya pada blog (bahkan ada beberapa di antara pemilik facebook yang saking seringnya membuat status tentang kegiatan dia sehari-hari dan masalah yang dihadapi, tampak seperti orang yang tak memiliki privacy lagi dalam hidupnya), ditambah lagi facebook menyediakan layanan facebook mobile, semakin gampanglah berfacebook ria. Selain itu, kelebihan facebook adalah kita dapat bertemu dengan teman-teman lama. Alhamdulillah..melalui facebook silaturrahmi saya dengan teman-teman lama, mulai dari SD hingga kuliah tersambung kembali. Namun situs jejaring sosial seperti ini, lama-lama akan membosankan karena bukan tempat yang tepat untuk berekspresi dan aktualisasi diri. Seperti halnya mainan baru, awalnya begitu mengasyikkan, namun lama-lama toh akan bosan juga. Situs ini lebih mengarah pada situs pertemanan yang semua orang dari berbagai status sosial dan tingkatan usia pasti akan menikmatinya dan memiliki akun ini.
Berbeda dengan webblog. Tidak semua orang memiliki webblog. Web blog hanya dimiliki oleh kalangan tertentu yang memang memiliki hobby atau ketertarikan pada dunia penulisan. Dan seperti saya katakan di atas, jika seseorang membuat webblog hanya dengan tujuan ikut-ikutan, atau “mengejar” seseorang, jelas blog orang tersebut tak akan bertahan lama. Kontak saya diwebblog Multiply, telah memasuki angka 400-an lebih. Namun diantara sekian ratus kontak tersebut, mungkin hanya 10 % yang tetap setia dengan “rumah”nya dan masih konsisten menulis. Orang-orang inilah yang akan terus bertahan dalam mengaktualisasi diri, berekspresi dan berkarya, dan tidak tergoda untuk meninggalkan dunia “blog”, walaupun tetap mengikuti trend facebook.
Apakah kamu termasuk barisan setia penumpang KRL Jabotabek? Kalau iya, kamu tentu tak heran dengan apa-apa yang akan saya ceritakan berikut. Cerita-cerita yang menyertai perjalanan sepanjang Bogor - Jakarta atau sebaliknya.
KRL Jabotabek, suatu pilihan angkutan bagi yang berkocek tipis dan perlu pengiritan. Suatu angkutan umum yang cepat, murah meriah dan sedikit menantang. Kenapa saya katakan menantang? karena kita kerap berhadapan dengan hal-hal yang cukup membahayakan. Kalau lagi sial, bisa sampai membahayakan jiwa.
Berhimpit-himpitan dengan penumpang lain, yang nggak jelas penumpang beneran atau tukang copet. Saingan dengan para pedagang, pengamen, dan pengemis yang lalu lalang di tengah desakan penumpang. Kadang sampai terdorong-dorong karena tidak ada ruang bagi yang mau naik ataupun turun.
Pernah di stasiun Depok Baru, seorang ibu terjatuh dari pintu kereta (ketika itu kereta baru mau jalan) karena berusaha menggapai anak perempuannya yang ketinggalan. Di stasiun Manggarai seorang wanita berusia 20-an tahun digotong-gotong karena pingsan. Wanita itu pingsan karena kalungnya dijambret pencopet ketika berdesak-desakan turun, sedangkan kakak perempuannya kehilangan HP karena sibuk mencari pencopet yang menjambret kalung adiknya.
Namun kejadian yang paling membahayakan jika terjadi tawuran antar anak sekolah di dalam gerbong. Anak-anak sekolah tersebut (kebanyakan berasal dari sekolah swasta yang mutu pendidikannya rendah) berlari-lari sambil membawa samurai (entah darimana mereka mendapatkan samurai itu), baku hantam satu sama lain, berdarah-darah, ada yang nekat menarik rem darurat. Bisa dibayangkan kegaduhan yang terjadi. Kejadian-kejadian seperti itu bisa dipastikan akan berakhir di rumah sakit.
Kejadian yang tak kalah berbahaya, adalah jika melewati stasiun Cilebut menuju stasiun Bojong Gede. Sepanjang jalan antara kedua stasiun tersebut -entah dengan tujuan apa- sering terjadi pelemparan batu yang dilakukan anak-anak usia sekolah. Penumpang kereta yang tidak tahu menahu jelas akan menjadi korban. Seorang pemuda penjual kalender, saya lihat hampir pingsan terkena lemparan batu. Pelipisnya penuh dengan darah. Teman saya sendiri nyaris menjadi sasaran. Untung ia cepat merunduk.
Di samping kejadian-kejadian yang membuat deg-degan di atas, ada juga kejadian-kejadian lucu yang membuat hati miris. KRL Jabotabek, selain menguntungkan dari segi waktu dan keuangan (Jakarta - Bogor dapat ditempuh dalam waktu kurang dari dua jam dengan ongkos kereta tidak lebih dari dua ribu lima ratus rupiah, murah kan?), juga merupakan ladang penghasilan bagi para pedagang, pengamen, pengemis, pencopet, dan penipu! Semua berbaur, bersatu padu dalam gerbong yang sama dengan para pelajar, mahasiswa, karyawan swasta maupun negeri, pengangguran, pencari kerja, dan sebagainya. Namun yang pasti tidak akan ditemukan anggota dewan atau pengusaha kelas atas di sana. Orang-orang kecil itu, mencari nafkah, mengais rezeki, memohon belas kasihan dari sesama orang kecil juga.
Seorang gadis cilik, belum lima tahun saya kira, dengan wajah memelas menyapu lantai sepanjang gerbong sambil jongkok. Sesekali ia menengadahkan tangan, memohon belas kasihan. Penumpang mana yang tidak iba melihatnya. Gemerincingan uang logam mulai banyak terdengar di dalam kantong permen yang disodorinya. Tepat di ujung gerbong, yang kebetulan lampunya mati, anak kecil itu berdiri, gemerincingan uang logam kembali terdengar, tapi kali ini dari si gadis cilik itu sendiri yang memberikan penghasilannya pada ibunda tercinta. Sang ibunda, rupanya sudah menunggu di ujung gerbong, duduk santai sambil menyulut rokok! Naudzubillah..
Ketika petugas pemeriksa karcis datang, serombongan remaja SMA puteri tersenyum-senyum genit pada bapak petugas. Rupanya mereka tidak punya karcis alias penumpang gelap. Bapak petugas tidak marah. Ia hanya membalas senyum sambil mencubit-cubit lengan para remaja puteri tersebut. Tidak jauh dari sana, seorang wanita yang sepertinya karyawan, menyelipkan uang seribuan pada bapak petugas karena tidak mempumyai karcis. Bapak petugas pura-pura marah, tapi tidak urung mengambil juga uang seribuan tersebut.
Itulah fenomena. Kejadian-kejadian yang senantiasa menyertai dan kerap terlihat di depan mata. Kejadian-kejadian yang tidak terpantau dan terabaikan oleh para petinggi kita. Bapak petugas karcis dan para penumpang gelap, adalah suatu hubungan simbiosis mutualisma. Saling menguntungkan dan saling memaklumi. Istilah kerennya, ‘tau sama taulah’…Para pengamen buta, pengemis pincang, tukang sapu gerbong yang tidak bisa jalan, siapa yang tidak tahu kalau itu pura-pura belaka. Tapi darimana mereka menggantungkan rezeki kalau bukan dari penumpang kereta. Mau beli yang serba murah? buah-buahan, tempat CD, kartu perdana, mainan anak-anak, dan banyak pernak-pernik lain, cari saja di kereta.
Sekali lagi, inilah angkutan orang kecil dengan segala dinamikanya. Apapun resikonya, tetap menjadi angkutan yang paling diminati, cepat dan murah meriah. Saya sendiri? adalah penumpang setianya, bisa irit sampai tujuh ribu rupiah pulang pergi dibandingkan dengan naik bis dari rumah saya di kawasan Bojong Gede sampai ke Bogor.
“Ummi, izin ya mo ngambil helmnya ustadz….”
“Oh iya silahkan, yang di pojokan itu kan?”
“Iya mi, makasih ya mi…assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumussalam”
Bagi beberapa orang percakapan tersebut mungkin tak ada artinya sama sekali. Tapi bagiku beda, itu adalah sebuah percakapan yang menggugah perasaan. Aku di panggil “ummi”…duuuh…senangnya, serasa udah jadi ummi…^_^
Lembaga tempatku mengajar mengadakan kerjasama dengan sekolah Islam Insan Kamil Bogor untuk beberapa bulan ke depan hingga pelaksanaan UN. Karena itulah beberapa staf pengajar dikirim khusus untuk membimbing adik-adik di sekolah tersebut termasuk diriku. Nah..pada saat tengah sendirian di ruang laboratorium fisika, seorang siswa SMP masuk dan terjadilah percakapan di atas.
Siswa-siswa di sana memang dibiasakan memanggil guru wanitanya dengan panggilan ummi. Mungkin aku sedikit berlebihan, tapi entahlah…yang pasti secara pribadi aku mengalami suatu getaran perasaan yang sulit dilukiskan tatkala mendapat panggilan ummi tersebut. Bukan sekedar perasaan karena emang udah “pengen” jadi ummi, tapi lebih ke arah makna yang terkandung di dalamnya kurasa. Bahwa wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat mulia. Bahwa semua wanita kelak akan menjadi ummi dan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di tanganlah kelak akan tercetak generasi-genarasi penerus yang berkualitas. Sungguh itu adalah tugas yang tidak ringan bagi seorang wanita. Itu adalah tugas yang penuh tanggung jawab. Namun Allah memberikannya pada wanita, pada seorang ibu. Dan cukuplah itu sebagai bukti bahwa betapa Allah memuliakan wanita.
Ya Allah..semoga kelak aku dapat menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku dan menjadi istri yang selalu taat pada suami, amiiin….
Beberapa waktu lalu aku membaca tulisan seorang teman di blog Multiply yang menceritakan tentang kondisi sahabatnya yang tengah sakit parah (dan kemungkinan menunggu maut menjemput). Tulisan itu mengingatkanku pada kondisi beberapa orang yang kuketahui juga saat ini tengah menderita sakit parah, yakni kanker otak stadium 3 bahkan memasuki stadium 4, juga mengingatkanku pada salah seorang sahabat terbaik yang beberapa bulan lalu menghadap Ilahi karena kondisi kesehatan pula.
Beberapa jam terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur menahan rasa sakit tak terperi yang kurasakan beberapa waktu lalu sungguh tak sebanding dengan penderitaaan yang dialami teman-teman yang menderita penyakit-penyakit mematikan tersebut. Tidak pada tempatnya jika aku masih mengeluh seolah-olah aku orang yang paling menderita menahan sakit. Aah…sungguhku tak bersyukur. Jika membayangkan ini semua seharusnyalah aku bersyukur, bersyukur pada Allah atas nikmat sehat yang telah Dia berikan. Aku hanya menderita sakit bulanan biasa yang umum terjadi pada wanita-wanita lain, dan itu pun bisa dihilangkan dengan jalan berolahraga rutin setiap minggu atau meminum ramuan jamu.
Nikmat sehat, adalah nikmat yang sering terlupakan dan terabaikan. Ketika sakit itu telah datang, baru biasanya kita bersyukur atas nikmat sehat kita. Lalu bagaimana caranya mensyukuri nikmat sehat itu, ya dengan cara menerapkan pola hidup sehat. Istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi, dan olahraga teratur. Mungkin sepele, namun ketika telah telah diterapkan, memberikan pengaruh yang lumayan berarti pada kondisi badan ini. Setidak-tidaknya itu yang kurasakan, setelah mencoba menjalaninya walaupun belum maksimal.
Dengan aktivitas yang lumayan padat (untuk sekitar 2 bulan ke depan hampir setiap hari aku baru bisa pulang ke rumah pukul 21.30), tentunya harus dibarengi dengan stamina yang mendukung pula. Karena itulah sebisa mungkin aku secara khusus menyediakan waktu untuk berolahraga secara teratur 2x seminggu. Pola makan pun kini berubah, yang biasanya anti sayur menjadi penyuka sayur, madu yang biasanya tergeletak di atas meja tak tersentuh kinipun sudah hampir habis tak bersisa. Namun untuk susu dan segala produknya, aku belum dapat berkompromi dengan lidahku untuk menyukainya. Sayangnya pula…pola tidur sehat belum dapat kujalani. Entah kenapa, hingga kini aku masih begitu sulit untuk dapat tertidur pulas jika belum pukul 12 malam. Mungkin untuk hal yang satu ini ada yang dapat membantu memberi solusi…????
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Note:utk seseorg yang telah mengingatkanku akan pola hidup sehat ini: jazakallah khoyr…
“Eh..tahu gak, si A kan udah jadi manager perusahaan, dan sekarang lagi study di luar negeri.”
”Iya…aku tahu, kalo’ si B sekarang malah udah punya perusahaan, mobilnya aja ada empat.”
”Si C, dah nyaman jadi anggota dewan dan kandidat calon kepala daerah juga.”
”Lah kamu…???”
”Yeee..nanya…kamu sendiri…???”
”Hehehe…yaaa tau sendirilah, kita kan sama….dari selesai kuliah dulu sampe sekarang gini-gini aja…Kerja serabutan gak jelas.”
Dua orang sahabat lama tersebut senyum-senyum malu dengan keadaan mereka yang tertinggal jauh dari teman-temannya.
Di lain kesempatan, juga ada pembicaraan yang kurang lebih sama.
”Hai bro…pa kabar…????waaah…tambah ndut nih sekarang, makmur kayaknya.”
”Alhamdulillah…udah gak capek lagi mikir kerjaan, tinggal suruh sana suruh sini. Ongkang ongkang di rumah ama anak istri, tapi duit dapet. Kamu sendiri gimana…???”
”Yaaah…aku masih gini-gini aja bro, sama seperti baru tamat kuliah dulu…tetap jadi pegawai rendahan dengan gaji tak seberapa.”
Penggalan perbincangan di atas menyiratkan perbedaan nasib dari beberapa orang yang hidup dalam kurun waktu sama dan memulai mencari kehidupan dengan start awal yang sama, yakni setelah tamat kuliah. Dalam selang waktu tersebut (anggaplah kira-kira 10 tahun), ternyata mereka mengalami nasib yang sangat berbeda. Kenapa bisa berbeda, karena si A, B, dan C serta bapak-bapak yang telah ”ndut” tersebut mengalami perubahan kehidupan yang besar. Sementara yang lain perubahan kehidupannya kecil, bahkan nyaris tak ada.
Lalu apa hubungannya dengan rumus fisika ”percepatan (a)” dalam Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB). Jelas ada korelasi yang sangat signifikan. Rumus percepataan adalah perubahahan kecepatan dibagi selang waktu (a = ∆v/∆t). Percepatan (a) berbanding lurus dengan perubahan kecepatan (∆v). Semakin besar perubahan kecepatan (∆v) yang dilakukan maka makin besar pula percepatannya (a), dan begitu pula sebaliknya, untuk selang waktu (∆t) yang sama. Perubahan yang dilakukan sesorang dalam hidupnya dengan tujuan merubah nasib dan mencapai sukses, jelas akan menghasilkan nilai percepatan yang sangat besar pada dirinya untuk menggapai kesuksesan tersebut. Ia seperti jauh melesat meninggalkan teman-temannya yang seolah-olah jalan di tempat, tidak bergerak lebih cepat ataupun lebih lambat. Adanya motivasi dan keinginan yang kuat, dan tentunya dibarengi dengan usaha yang gigih membuat banyak orang yang dalam waktu cepat menggapai kesuksesan karena perubahan kehidupan yang sangat besar yang telah mereka lakukan. Bahkan Allah dalam firmanNya di Alqur’an pun telah menyerukan hal tersebut: ”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka,” (QS.13:11).
Namun adakalanya seseorang yang memulai semua usahanya nya dari nol, dapat mengejar ketinggalan seseorang yang telah sukses lebih dahulu. Ini jelas sekali memungkinkan jika seseorang tadi berjuang gigih dalam meningkatkan nilai kecepatannya untuk mengejar sukses sehingga percepatannya menjadi besar dan orang yang telah lebih dahulu mendulang sukses darinya justru berpuas diri dan tidak melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat serta hal-hal yang dapat meningkatkan kualitas diri dan kesuksesannya.
Kesuksesan mempunyai arti yang berbeda-beda, tergantung bagaimana seseorang memandang arti sukses tersebut. Ada yang mendefinisikan bahwa sukses itu adalah bekerja dengan gaji di atas 10 juta, ada yang merasa sukses jika telah ada puluhan perusahaan berada di tangannya. Namun ada juga yang merasa bahwa ia adalah seseorang yang sukses tatkala melihat istrinya dapat menjadi seorang istri sholehah dan anak-anaknya tumbuh dengan bekal keimanan yang kuat, walaupun ia sendiri berkerja dengan gaji pas-pasan. Hidup sederhana tanpa ada hutang di sana sini pun bagi seseorang bisa jadi adalah sebuah kesuksesan. Terlepas dari bagaimana seseorang memandang arti sukses dalam hidupnya, yang pasti untuk mencapai itu semua ia harus melakukan perubahan yang besar dalam hidup. Karena itu hiduplah seperti rumus ”percepatan (a)”dalam Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB), dan bukan rumus Gerak Lurus Beraturan (GLB), dimana pada rumus GLB, tidak ada nilai perubahan kecepatan, dengan kata lain kecepatannya tetap atau konstan, sehingga nilai percepatannya nol. Itu sama artinya seseorang tak maju-maju dalam hidupnya. Terus-terus menerus dalam keadaan yang sama sepanjang waktu.
Pada rumus GLBB, dikenal pula istilah ”perlambatan (nilai pecepatannya minus). Rumus ini pun jangan ditiru, karena nilai minus muncul akibat kecepatan akhir yang dilakukan lebih kecil daripada kecepatan awal (∆v = vt – v0). Ini sama artinya sesorang mengalami kemunduran dalam hidupnya.
Wallahu ’alam bishowab.
Semoga bermanfaat.